Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Juni 2013

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN KELOMPOK 10



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengembangan sumber Daya Manusia Jenjang Pendidikan Menengah Atas Terhadap Kurikulum

            Pengembangan Sumber Daya Manusia adalah suatu proses peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas dari semua penduduk suatu masyarakat (M.M. Papayungan, 1995: 109). Sementara itu Payaman J. Simanjuntak berpendapat bahwa: “Sumber Daya Manusia mengandung dua pengertian: Pertama, Sumber Daya Manusia mengandung pengertian usaha kerja atau jasa yang dapat diberikan oleh seseorang dalam waktu tertentu untuk menghasilkan barang dan jasa.
            Sedangkan pengertian kedua dari Sumber Daya Manusia adalah  menyangkut manusia yang mampu bekerja untuk memberikan jasa atau usaha kerja tersebut (Payaman J. Simanjuntak, 1985: 1). Selanjutnya Efendi berpendapat bahwa: “Pengembangan sumber daya manusia sebagai upaya untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya pada penduduk untuk terlibat secara aktif dalam proses pembangunan(Efendi,1994:12).
            ”Dari beberapa pengertian Pengembangan Sumber Daya Manusia di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan sumber daya manusia di Indonesia khususnya, sangat terkait erat dengan kualitas manusia atau masyarakat sebagaimana sasaran utama Pembangunan Nasional yaitu menciptakan manusia dan masyarakat yang berkualitas. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa kemajuan pembangunan suatu bangsa, namun demikian masih banyak tantangan yang menjadi kendala perkembangan selanjutnya. [1]
1) Masih rendahnya tingkat pendayagunaan sumber daya manusia yang ditandai oleh besarnya jumlah dan tingkat pengangguran sehingga resiko ketergantungan semakin tinggi.
2) Mutu produktivitas sumber daya manusia secara relatif masih harus banyak ditingkatkan terutama untuk menghadapi perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Di sisi lain pembangunan juga akan membawa dampak negatif terhadap kualitas masyarakat apabila tidak memperhatikan atau mempertimbangkan manusia dalam proses pembangunan, yaitu dapat menurunkan kualitas masyarakat. Karenanya perlu ada pertimbangan dari berbagai sisi dalam pembangunan yang akan dilaksanakan terutama sisi sosial, spiritual terhadap kesiapan dan daya tanggap sumber daya manusia dengan perubahan yang terjadi akibat pembangunan dan modernisasi.

2.2  Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Atas

Dalam tesis ini yang akan didefinisikan adalah pengembangan kurikulum Pendidikan Secara etimologis kata pengembangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003 : 538), berasal dari kata dasar “kembang” yang artinya “maju”, dan jika mendapat awalan –ber menjadi berkembang yang artinya mekar terbuka, membentang atau membesar. Dengan mendapat awalan–pe dan akhiran–an, maka berarti proses atau cara pembuatan mengembangkan atau biasa juga diartikan sebagai proses kegiatan bersama yang dilakukan penghuni suatu daerah untuk memenuhi kebutuhannya. Berbagai pengertian yang sering dikaitkan  oleh masyarakat  mengenai pengertian pengembangan ini adalah pengertian Development (Pembangunan), Progress (Kemajuan), Growth(Pertumbuhan), Maturation (Pendewasaan), Modernisasi (Pembaharuan) dan lain sebagainya.
Dalam penelitian ini, penulis memiliki kecenderungan untuk memilih definisi pengembangan sebagai suatu kemajuan. Segala upaya yang telah dilakukan dalam upaya pengembangan kurikulum tingat satuan pendidikan mata pelajaran Pendidikan Islam adalah untuk mendapatkan kemajuan dalam pendidikan.[2]
Dalam penelitian pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran Pendidikan di SMA  ini, penulis mencoba untuk mengamati proses pengembangan kurikulum yang telah dilakukan oleh pihak sekolah yang meliputi:
 a. Menganalisis, dan mengembangkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan Standar Isi (SI).
 b. Merumuskan visi dan misi serta tujuan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
 c. Berdasarkan SKL, standar isi, Visi, dan misi, serta tujuan pendidikan pada tingkat satuan   pendidikan di atas selanjutnya dikembangkan bidang studi-bidang studi yang  akan diberikan untuk merealisasikan tujuan tersebut.
 d. Mengembangkan dan mengidentifikasi tenaga-tenaga kependidikan (guru dan non guru) sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan dengan berpedoman pada standar tenaga kependidikan yang ditetapkan BSNP.
 e. Mengidentifikasi fasilitas pembelajaran yang diperlukan untuk memberi kemudahan belajar, sesuai dengan standar sarana dan prasarana pendidikan yang ditetapkan BSNP (Mulyasa, 2006 : 149).
Penelitian pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran Pendidikan di SMA ini akan mencoba mengidentifikasi pengembangan kurikulum yang meliputi, pengembangan silabus, pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran dan pengembangan evaluasi belajar. Ada 5 langkah pengembangan kurikulum dalam model Taba yang di antaranya adalah sebagai berikut:
 a.  Mengadakan unit eksperimen bersama guru-guru. Di dalam unit eksperimen ini diadakan kajian yang seksama tentang hubungan antara teori dan praktek. Ada 8 langkah dalam kegiatan unit eksperimen:
1) Mendiagnosis kebutuhan,
2) Merumuskan tujuan-tujuan khusus,
3) Memilih isi,
4) Mengorganisasi isi,
5) Memilih pengalaman belajar,
6) Mengorganisasi pengalaman belajar,
7) Mengevaluasi,
      8) Melihat sekuens dan keseimbangan (Taba, 1962 : 347-379).
Menilik pada pengertian teori kurikulum. Nana Saodih menjelaskan bahwa teori kurikulum merupakan suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena ada penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum (Taba, 1962 : 27). Sesuai dengan teori kurikulum, ada dua jenis kurikulum yaitu Formal Curriculum dan Hidden curriculum. Pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan ini memiliki spesifikasi pada kurikulum formal yang ada di sekolah.
Sebagaimana telah diterangkan di atas  bahwa selain kurikulum formal juga ada kurikulum tersembunyi atauHidden Curriculum. Kurikulum formal  adalah kurikulum yang mencakup semua materi pelajaran yang diberikan di sekolah termasuk di dalamnya adalah muatan lokal yang notabene memiliki ciri khas daerah masing-masing di mana proses pendidikan itu dilaksanakan. Hidden Curriculum adalah kurikulum yang dapat menunjukkan pada suatu hubungan sekolah, yang meliputi interaksi guru, peserta didik, struktur kelas, keseluruhan pola organisasional peserta didik sebagai mikrokosmos sistem nilai sosial (Bellack dan Kliebard, 1993 : 26). Hidden Curriculum merupakan kurikulum yang tidak direncanakan, tetapi keberadaan Hidden Curriculum juga memiliki kontribusi yang signifikan dalam proses pendidikan.
Pengembangan kurikulum di tiap satuan pendidikan merupakan hal yang urgen. Dengan adanya pengembangan kurikulum, kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di tiap satuan pendidikan akan lebih baik, karena pengembangan kurikulum ini memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
Dalam penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan ini lebih memberikan  Full authority and responsibility pada sekolah dalam menetapkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan visi, misi dan tujuan satuan pendidikan dari tanggung jawab dan otoritas yang dilimpahkan pada pihak sekolah inilah maka sudah menjadi konsekuensi logis bagi para guru untuk lebih profesional dalam mewujudkan proses pengajaran yang efektif agar pengajaran dapat berlangsung secara efektif, maka guru harus menciptakan proses pengajaran dalam suasana pembelajaran dan pengajaran yang baik (Surya, 2004 : 77).
Proses pengajaran yang efektif dapat terbentuk melalui pengajaran yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1.      Berpusat pada Siswa (Student Center)
Keberhasilan proses pembelajaran dan pengajaran terletak dalam perwujudan diri siswa sebagai pribadi mandiri, pelajar efektif dan pekerja produktif. Dari dasar inilah maka sudah sepatutnya seorang guru memberikan perhatiannya kepada siswa sehingga siswa dapat berkembang dengan baik.
2.      Interaksi Edukatif antara Guru dengan Siswa
Rasa saling memahami antara guru dan siswa akan terpupuk subur dengan adanya interaksi edukatif yang harmonis antara guru dengan siswa. Sehingga membangun interaksi edukatif yang harmonis antara guru dengan siswa merupakan kewajiban yang harus dilakukan, yang dalam hal ini tentunya seorang guru dituntut untuk lebih aktif.
3.      Suasana Demokratis
Suasana demokratis dapat diwujudkan  dalam kelas dengan memberikan penghargaan kepada semua pihak sesuai dengan prestasi dan potensinya, sehingga dengan adanya penghargaan ini akan memupuk rasa percaya diri pada siswa dan selanjutnya siswa dapat berinovasi dan berkreasi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
4.      Variasi Metode Mengajar
Variasi metode mengajar yang dilakukan oleh guru hendaknya disesuaikan dengan tujuan pencapaian materi pelajaran dan tidak hanya monoton pada satu metode sehingga suasana pengajaran tidak jadi membosankan bagi siswa dalam hal ini guru dituntut untuk lebih kreatif.
5.      Guru Profesional
Menurut Usman (2006 : 15), proses pengajaran yang efektif akan dicapai apabila dilakukan oleh seorang guru yang profesional. Ada beberapa persyaratan seorang guru dikatakan profesional:
1.      Menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang komprehensif.
2.      Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang keguruan.
3.      Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai
4.      Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan atau pengajaran yang dilakukan.
5.      Memungkinkan perkembangan pendidikan sejalan dengan dinamika kehidupan
6.      Memiliki kode etik keguruan
7.      Diakui oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat.
8.      Bahan yang Sesuai dan Bermanfaat
Bahan pelajaran yang diajarkan adalah bersumber dari kurikulum yang telah ditetapkan secara baku. Dalam Suparman (2001 : 8), kurikulum yang telah ditetapkan pun harus dikembangkan untuk mengantisipasi keadaan-keadaan berikut:
1.      Merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
2.      Merespon perubahan sosial kemasyarakatan di luar sistem pendidikan
3.      Memenuhi kebutuhan peserta didik
4.      Merespon kemajuan-kemajuan dalam pendidikan
5.      Merespon terhadap perubahan sistem pendidikan itu sendiri.
Dengan adanya beberapa pertimbangan di atas diharapkan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa benar-benar sesuai dan bermanfaat.
Dalam upaya pengembangan kurikulum ini, lembaga pendidikan SMA telah membentuk tim pengembang kurikulum yang berada di bawah tanggung jawab kepala sekolah. Mengenai upaya pengembangan kurikulum di SMA ini, menurut sumber berpendapat bahwa; ”Berbicara masalah pengembangan KTSP  erat kaitannya dengan mutu pendidikan, karena segala upaya pengembangan kurikulum yang dilakukan pada suatu lembaga pendidikan adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di lembaga tersebut.” 
Sekolah selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui pengembangan kurikulum. Tim pengembang kurikulum ini memiliki tugas untuk menyusun KTSP, mengembangkan KTSP, merintis kelas berstandar internasional dan pengembangan yang lain yang menunjang peningkatan mutu pendidikan di sekolah. 
Dalam upaya pengembangan kurikulum, dan pengembangan sumber daya manusia, pihak sekolah juga menjalin kerjasama dengan lembaga terkait sebagai faktor penunjang dalam upaya pengembangan kurikulum. Seperti halnya saat ini pihak sekolah sedang menjalin kerjasama dengan lembaga bantuan belajar dalam rangka memacu keterampilan siswa dalam berbahasa Inggris dan juga bekerjasama dengan e-learning  untuk mempermudah siswa dalam menguasai dunia informasi melalui internet.”
Pada hakikatnya sumber daya manusia tidak hanya penting diperhatikan masalah keahlian sebagai mana yang telah umum dipahami dan diterima, tetapi juga penting diperhatikan masalah etika atau akhlak dan keimanan-keimanan pribadi-pribadi yang bersangkutan. Jadi, sebagaimana benar bahwa SDM yang bermutu ialah yang mempunyai tingkat keahlian tinggi, juga yang tak kurang benarnya adalah bahwa SDM tidak akan mencapai tingkat yang diharapkan jika tidak memiliki pandangan dan tingkah laku etis dan moral yang tinggi berdasarkan keimanan yang teguh.Sumber daya manusia banyak, tetapi tanpa kualitas atau dengan kualitas rendah, merupakan beban. Untuk itu perlu diupayakan pengembangan sumber daya manusia yang ada ini.

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN KELOMPOK 6



BAB II
ISI

  2.1            Pendidikan Akhlak
a.      Pengertian Pendidikan Akhlak
Akhlak berasal dari bahasa Arab, yang artinya berarti perangai, tabiat, watak dasar, kebiasaan, sopan dan santun agama.[2] Secara linguistik (kebahasaan) kata akhlak merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak mempunyai akar kata, mengklaim kata tersebut memang begitu adanya. Kata akhlak atau khuluq kedua-duanya dijumpai pemakaianya di dalam al-Qur’an maupun Hadits sebagai terlihat berikut:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Q.S. Al-Qalam, 66:4).
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: “(Agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebasaan yang dahulu”. (Q.S.Al-Syua’ra, 26:137).[3]
Adapun menurut istilah para ahli, akhlak adalah kehendak yang dibiasakan. Para ahli mengemukakan berbagai pendapat tentang pengertian akhlak.

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN KELOMPOK 4





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pentingnya Reformasi dan Transformasi Sekolah/Madrasah
Seiring digulirkannya otonomi pendidikan, reformasi dan transformasi sekolah idealnya sudah bukan lagi sekadar wacana yang mengapung-apung dalam bentangan slogan dan retorika, melainkan sudah menjadi sebuah keniscayaan sejarah, menjadi realitas praksis dalam dunia persekolahan kita.
Mengapa reformasi dan transformasi sekolah demikian penting dipersoalkan? Setidaknya ada tiga argumen yang layak dikemukakan.
Pertama, sekolah merupakan “ikon” masyarakat mini yang diharapkan mampu memberikan bekal hidup (life skills) yang sesungguhnya kepada peserta didik. Ini artinya, sekolah mesti menjadi institusi yang “merdeka” dalam menentukan masa depan bagi si anak yang hanya bisa terwujud jika angin reformasi dan transformasi berembus segar ke sekolah-sekolah.
Kedua, sekolah merupakan lembaga publik yang memberikan layanan kemanusiaan kepada peserta didik. Sebagai lembaga publik, sekolah dituntut untuk memiliki tingkat akuntabilitas, akseptabilitas, dan kredibilitas yang baik di mata publik sebagai “konsumen”-nya. Hanya melalui iklim reformasi yang sehat sekolah dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara terhormat dan bermartabat kepada publik.

Senin, 10 Juni 2013

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN KELOMPOK 7





BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Akhlak
            Menurut pendekatan etimologi, perkataan "akhlak" berasal dari bahasa Arab jama' dari bentuk mufradnya "khuluqun" ( خلق ) yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan
"khalqun" ( خلق ) yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan "khaliq" ( خالق ) yang berarti pencipta dan "makhluq" ( مخلوق ) yang berarti yang diciptakan.1
            Definisi akhlak di atas muncul sebagai mediator yang menjembatani komunikasi antara khaliq (pencipta) dengan makhluq (yang diciptakan) secara timbal balik, yang kemudian disebut sebagai hablum min Allah. Dari produk hamlum min Allah yang verbal biasanya lahirlah pola hubungan antar sesama manusia yang disebut dengan hablum min annas (pola hubungan antar sesama makhluk).

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN KELOMPOK 9




BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Islam
Ilmu pendidikan islam adalah teori, konsep atau pengetahuan tentang pendidikan yang berdasarkan islam. Rumusan mengenai teori , konsep atau pengetahuan tentang pendidikan  bisa diambil dari sumber pokok ajaran islam(Qur’an dan Hadis), praktik pendidikan yang dilakukan oleh umat islam sepanjang sejarah, dan atau bisa juga diambil dari hasil pemikiran manusia yang bersifat mengembangkan makna dari sumber pokok ajaran islam,serta temuan dari fakta pengalaman empirik dunia pendidikan, kemudian dijadikan sebagai pedoman normative untuk melaksanakan proses pendidikan islam.[1]

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN KELOMPOK 8



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Akhlak Al-Karimah
Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu isim masdar dari kata (akhlaqa, yukhliku, ikhlaqan) yang berarti perangai, kelakuan, tabiat, watak dasar. Secara Istilah, akhlak dapat diartikan sebagai  gambaran atau bayangan dari jiwa seseorang, mereka berbuat, bertindak, atau bertingkah laku berdasarkan apa yang tertanam dalam jiwanya dan telah menjadi kebiasaan setiap hari tanpa ada pengaruh atau dorongan dari pihak lain, mereka melakukan secara spontan tanpa pertimbangan pikiran sebelumnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri akhlak diartikan sebagai kalakuan atau budi pekerti. Yang mana kelakuan tersebut dapat terbentuk dan dibentuk baik oleh fak-r internal maupun eksternal individu. Maka oleh karena itu diperlukan adanya pendidikan mengenai akhlak atau kelakuan atau budi pekerti tersebut. Pada hakekatnya, pendidikan budi pekerti memiliki substansi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Yang mana menurut Haidar pendidikan budi pekerti itu adalah usaha sadar yang dilakukan dalam rangka menanamkan atau menginternalisasikan nilai-nilai moral ke dalam sikap dan prilaku peserta didik agar memiliki sikap dan prilaku yang luhur (berakhlakul karimah) dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia maupun dengan alam atau lingkungan.[1]

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN KELOMPOK 5



                                                                BAB II
                                                        PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Pendidikan Sepanjang Hayat
                    Pendidikan merupakan suatu upaya sadar manusia untuk mendewasakan anak. Secara umum Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan yang mengandungi unsur-unsur pengajaran, latihan, bimbingan dan pimpinan dengan tumpuan khas kepada pemindahan berbagai ilmu, nilai agama, dan budaya serta kemahiran yang berguna untuk diaplikasikan oleh individu (pengajar atau pendidik) kepada individu yang memerlukan pendidikan
Beberapa pendapat pakar tentang pendidikan :[1]
1. Crow and crow mengartikan pendidikan sebagai proses dimana penaglama atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar.
2. John Dewey ( Pandangan pakar pendidikan dari Amerika) berpandangan bahwa pendidikan ialah satu proses membentuk kecenderungan asas yang berupa akaliah dan perasaan terhadap alam dan manusia
3. Prof. Horne (tokoh pendidik di Amerika), berpendapat bahwa pendidikan merupakan proses abadi bagi menyesuaikan perkembangan diri manusia yang merangkumi aspek jasmani, alam, akliah, kebebasan dan perasaan manusia terhadap Tuhan sebagaimana yang ternyata dalam akliah, perasaan dan kemahuan manusia.

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN KELOMPOK 2


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.  Pengembangan Sumber Daya Manusia
Investasi pengembangan sumber daya manusia selalu berjangka panjang. Program pengembangan jangka panjang ini mempersiapkan manusia terdidik yang memiliki ilmu pengetahuan dan mempunyai kualitas yang tinggi, yaitu manusia yang berkaliber nasional dan internasional. Adanya gejala pengangguran manusia terdidik dewasa ini perlu mendapatkan perhatian serius. Misalnya, perlu dilakukan peninjauan ulang terhadap isi dan arah kurikulum pendidikan yang tidak sejalan dengan kebutuhan pembangunan. Perlu pengembangan paradigma pendidikan yang memposisikan individu yang mandiri, pembelajar, dan mengupayakan pengembangan serta pemberdayaan potensi.

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN KELOMPOK 1



BAB II
PEMBAHASAN
Dalam pendidikan Islam terdapat tiga konsep dasar pendidikan Islam, yaitu Ta’dib, Ta’lim dan Tarbiyah. Untuk lebih jelasnya ketiga konsep tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
A. Ta’dib
            Kata ta’dib secara etimologis adalah bentuk masdar yang berasal dari kata “addaba”, yang artinya membuat makanan, melatih dengan akhlak yang baik, sopan santun, dan tata cara pelaksanaan sesuatu yang baik.[1][2]
            Menurut al-Naqaid, al-Attas, ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan.[2][3]